Showing posts with label Geografi Kota. Show all posts
Showing posts with label Geografi Kota. Show all posts

Saturday, November 7, 2020

14 Definisi Kota Menurut Para Jago


https://images.pexels.com/photos/356830/pexels-photo-356830.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&h=650&w=940




Ketika sedang belajar mengenai perkotaan, kita kerap diminta untuk mengenang bahkan menghafalkan definisi kota menurut para hebat oleh guru kita.





Selain untuk mengembangkan pengertian, mengenali dan mengerti definisi juga mampu menolong kita untuk mengerti apa yang sesungguhnya kita pelajari.





Oleh sebab itu, di bawah ini adalah 14 definisi kota berdasarkan ahli dan lembaga terkemuka yang dapat dijadikan acuan berguru.





 



Definisi Kota Menurut Ahli





1. Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa kota ialah kawasan dimana konsentrasi penduduk lebih padat dari kawasan sekitarnya alasannya terjadinya pemusatan kegiatan fungsional yang berkaitan dengan kegiatan atau acara orangnya.





2. Menurut Permendagri 2 tahun 1987 kota ialah pusat permukiman dan aktivitas masyarakatyang mempunyai batasan daerah administrasi yang dikontrol dalam peraturan perundangan, serta permukiman yang sudah menunjukkan moral dan ciri kehidupan perkotaan.





3. Menurut Permendagri No.4 Tahun 1980 kota yaitu sebuah wadah yang memiliki batas-batas manajemen daerah mirip kotamadya dan kota administratif. Kota juga bermakna sebuah lingkungan kehidupan perkotaan yang memiliki ciri non agraris.





4. Menurut Bintarto, kota diartikan selaku sebuah sistim jaringan kehidupan yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang heterogen dan bercorak materialistis. Masyarakat kota terdiri atas penduduk asli kawasan tersebut dan pendatang.





5. Menurut UU No.22 tahun 1999 wacana Otonomi Daerah, kota yakni tempat yang memiliki aktivitas utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.





6. Menurut Louis Wirth, kota yaitu pemukiman yang berpenduduk relatif besar dengan kepadatan tinggi, memiliki luas area terbatas, serta kebanyakan bersifat non-agraris.





7. Menurut Jorge E. Hardoy, sebuah pemukiman dapat disebut kota jikalau





  • Ukuran dan Jumlah penduduk besar terhadap periode dan tempat
  • Bersifat permanen
  • Memiliki fungsi perkotaan minimum yaitu sebuah pasar, pusat administrasi, pusat militer, pusat keagamaan, dan sentra intelektualitas.
  • Heterogenitas penduduk
  • Pusat pelayanan bagi lingkungan setempat (hinterland)
  • Tempat dimana penduduk tinggal dan atau melakukan pekerjaan
  • Pusat kegiatan dan interaksi ekonomi




8. Menurut Max Weber, kota yakni daerah yang penghuninya mampu menyanggupi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar setempat. Ciri kota adalah adanya pasar sebagai benteng serta memiliki sistem aturan tersendiri





9. Ir Sutami menyatakan bahwa kota ialah daerah koldip (Koleksi, distribusi, dan bikinan)





10. Amos Rappoport membagi definisi kota menjadi dua, yaitu klasik dan terbaru.





  • Klasik Kota yaitu sebuah pemukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, berisikan golongan individu-individu yang heterogen dari segi sosial
  • Modern Kota ialah sebuah permukiman yang dirumuskan bukan dari ciri morfologi kota tetapi dari sebuah fungsi yang membuat ruang-ruang efektif lewat pengorganisasian ruang dan hierarki tertentu




11. Menurut Alan S. Burger, kota yaitu suatu permukiman yang permanen dengan masyarakatheterogen. Kota juga dilengkapi dengan banyak sekali akomodasi yang terintegrasi membentuk sebuah tata cara sosial.





12. National Urban Development Strategy mendefinisikan kota sebagai pusat pelayanan, kegiatan buatan, distribusi, dan jasa yang mendukung perkembangan ekonomi di wilayah sekitarnya.





13. Menurut John Brickerhoff Jackson, kota ialah sebuah daerah tinggal manusia yang ialah manifestasi dari perencanaan dan perancangan yang dipenuhi oleh aneka macam bagian seperti bangunan, jalan, dan ruang terbuka hijau.





14. Djoko Sujarto mengartikan kota selaku pemukiman yang memiliki karakteristik berikut





  • Demografis: Pemusatan masyarakattinggi dengan kepadatan yang lebih tinggi   daripada kawasan sekitarnya
  • Sosiologis: Adanya sifat heterogen yang melingkupi kehidupan sosial penduduk
  • Ekonomi: Adanya proporsi lapangan pekerjaan yang mayoritas di sektor non pertanian seperti industri, jual beli, pelayanan, dan transportasi
  • Fisik: Didominasi kawasan terbangun dan struktur binaan
  • Administrasi: Memiliki wilayah wewenang yang dibatasi dan ditetapkan oleh peraturan yang berlaku




 



Kesimpulan





Ternyata definisi kota dari para mahir cukup banyak ya, cukup sukar menghafalkan mereka semua.





Namun kalau kita cermati, semua definisi tersebut mampu dirangkum menjadi satu definisi lazim tentang perkotaan yaitu





Sebuah kawasan yang menjadi pusat kegiatan daerah, mempunyai banyak masyarakatdengan kepadatan tinggi, memiliki sifat penduduk yang heterogen dan mempunyai wilayah wewenang yang terbatas oleh suatu peraturan atau konvensi”





Terkadang kita mengajukan pertanyaan-tanya, mengapa di definisi kota acap kali tercantum pernyataan “Mayoritas kegiatan ekonomi non-agraris”, padahal bergotong-royong banyak kota yang cukup menggantungkan dirinya pada kegiatan-kegiatan yang dianggap agraris, misalnya Malang.





Ternyata agraris yang dimaksud disini adalah pertanian tanpa diolah.





Ketika hasil pertanian telah dimasak menjadi setengah jadi atau bahkan menjadi barang jadi seperti kuliner kaleng dan susu kemasan, dia telah berkembang menjadi sektor manufaktur, yaitu industri pertanian.



Sumber ty.com

5 Aspek Perkotaan

Dalam membicarakan kota, selain mengerti dan mengetahui definisinya, kita juga perlu memahami aspek-faktor dari kota tersebut. Namun lagi-lagi pendapat para ahli dalam menentukan aspek sebuah perkotaan sangatlah banyak.


Salah satu ahli yang sering dikutip mengenai hal ini yaitu Melville C. Branch, menurutnya ada 3 faktor ialah fisik, sosial, dan ekonomi, tetapi kalau dijabarkan secara umum, pertimbangan para ahli dapat dimasukkan ke dalam 5 aspek dibawah ini.




Aspek Fisik


buildings, coast, coastline


Jika ditinjau secara fisik, kota cenderung lebih terbangun (built up) dengan bangunan-bangunan yang terletak saling berdekatan dan mempunyai fasilitas yang lebih lengkap kalau ketimbang desa. Faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik fisik kota ini antara lain yakni




  • Topografi




Faktor topografis mirip kemiringan dan bentukan bentang lahan mampu mempengaruhi komponen-bagian yang berada di dalam kota. Pada umumnya jaringan jalan berkembang melalui kemiringan-kemiringan yang relatif landai supaya tidak butuhrekayasa tanah, dan gedung-gedung serta perumahan cenderung memilih daerah yang lebih landai jika memungkinkan.


Hal diatas dikarenakan sulitnya membangun pada daerah berkemiringan tinggi, selain besarnya ongkos yang diperlukan untuk melaksanakan cut and fill pada bidang tanah tersebut, risiko teknis yang dihadapi oleh para insinyur juga cukup beragam, mulai dari mass wasting, sampai melemahnya pondasi alasannya adalah pengikisan dan gravitasi.




  • Bangunan




Bangunan ialah komponen kota yang terperinci terlihat, bangunan yang didirikan semestinya menentukan lokasi yang strategis dan gampang untuk dibangun, guna mengurangi biaya dan kesulitan konstruksi.


Pola penempatan bangunan dalam kota bersifat unik, persis mirip sidik jari kita, acuan penempatan bangunan serta contoh bangunan mampu digunakan untuk menentukan alur sirkulasi (pergerakan insan) dalam sebuah kota, menandai daerah yang ramai dan sepi, serta daerah yang relatif kaya (affluent) dengan daerah yang relatif lebih miskin.


Hal tersebut mungkin dilakukan alasannya adalah bangunan selalu merepresentasikan lingkungan dimana ia berada, lingkungan yang elok akan memiliki bangunan yang relatif cantik, dan lingkungan yang jelek juga akan mempunyai bangunan yang buruk serta kurang terawat.


Seiring dengan berkembangnya kota, teladan penempatan bangunan serta contoh bangunan itu sendiri juga akan berganti menyesuaikan dengan kemajuan kota tersebut.




  • Suprastruktur & Infrastruktur




Suprastruktur dan infrastruktur ialah kemudahan kota yang antara lain yakni jembatan, gorong-gorong, jaringan penerangan jalan, jaringan listrik, jalan raya dan fasilitas pengolahan limbah.


Suprastruktur dan infrastruktur berperan penting dalam mengendalikan kota, karena lazimnya kota berkembang sesuai dengan ketersediaan suprastruktur dan infrastruktur ini. Karena fakta ini, kita kerap menemukan istilah growth pole-growth center dan teladan-teladan perumahan ribbon ketika membaca tentang kemajuan wilayah dan kota.




  • Ruang terbuka




Ruang terbuka selain berupa taman, kawasan bermain, dan hutan kota, juga mampu berupa tempat yang open top atau terbuka keatas, tempat-daerah tersebut antara lain ialah areal makam dan lahan pertanian. Umumnya, makin ke pinggiran kota, ruang terbuka akan kian banyak. Hal ini dapat terjadi sebab ruang-ruang terbuka tersebut tidak efisien daerah, sehingga membutuhkan luas tanah yang lebih besar, dan berdasarkan teori bid rent alonso, harga tanah akan makin murah seimbang dengan jaraknya dari sentra kota.




  • Iklim




Iklim juga mensugesti fisik sebuah kota, rata-rata curah hujan akan mensugesti pola pembangunan drainase, perancangan jalan, jenis bangunan, dan teladan persebaran pohon kota.


Suhu rata-rata juga dapat kuat, kian dingin suhu maka akan makin memerlukan jaringan pemanas dan material bangunan insulatif yang mempertahankan panas, sedangkan kian panas suhu maka akan makin memerlukan jaringan pendingin (air conditioner) serta material bangunan yang juga mudah melepas kalor.


Kota yang mengalami trend acuh taacuh tentu saja akan berbeda dengan kota-kota di daerah tropis, mulai dari perancangan atapnya yang khusus untuk menahan beban salju yang menumpuk, sampai adanya unit penghangat sentral yang menyalurkan panas ke banyak sekali rumah, layaknya perusahaan air keran.




  • Densitas




Kepadatan perkotaan menawarkan sebaran konsentrasi bangunan dan aktivitas produktifnya. Kondisi dianggap terlalu padat ketika jumlah insan yang memanfaatkan akomodasi penunjang seperti jalan, terusan kereta, dan ruang terbuka menjadi terlalu banyak, sehingga melebihi kemampuan pelayanan kemudahan-kemudahan tersebut.


Kepadatan perkotaan mampu dilihat memakai koefisien dasar bangunan (KDB), ketinggian bangunan (KB), dan kuantitas ruang terbuka. Kepadatan juga dapat diukur dengan mengkalkulasikan jumlah penduduk-per-rumah (dwelling density), penduduk-per-satuan ruang (population density), dan jumlah bangunan-per-satuan ruang (building density).




  • Vegetasi




Unsur vegetasi dapat meningkatkan pesona kota dan menjaga kebersihan udara, disamping itu vegetasi juga dapat mengurangi laju pengikisan tanah, ancaman tanah longsor, dan berfungsi menghemat polusi suara, vegetasi berkayu seperti pohon juga dapat bertindak selaku pematah angin (windbreak).


Karena manfaat-faedah yang disebutkan diatas, vegetasi umumnya ditanam di sepanjang jalan raya, jalur kereta, dan ruang-ruang pergerakan yang lain. Pada ruang pergerakan pejalan kaki (pedestrian), eksistensi vegetasi pohon mampu menunjukkan perlindungan dari teriknya matahari (shade), sehingga mengembangkan kenyamanan orang berjalan kaki.




  • Estetik




Setiap individu dan kebdudayaan sangatlah bermacam-macam selera estetikanya, oleh alasannya adalah itu setiap kota senantiasa memiliki bagian estetika yang berlawanan, dan meningkat sendiri sesuai dengan budaya yang ada di kawasan tersebut.


Perbedaan yang sangat kontras adalah antara kota-kota di Eropa dan Amerika Serikat. Di Eropa, kota-kotanya sungguh compact dan memiliki densitas tinggi, disamping itu dominan orang juga tinggal di dalam pusat kota dengan memanfaatkan perumahan bersama mirip flats dan apartement, penduduknya juga lebih bahagia untuk menggunakan transportasi publik. Sedangkan di Amerika Serikat, kotanya condong mengalami sprawl, dominan penduduknya lebih menggemari tinggal di luar kota, di kawasan suburban, memakai kendaraan langsung untuk berpergian, dan tinggal di rumah-rumah landed house.


 


Aspek Sosial



Jika dipandang dari aspek sosial, kota ialah konsentrasi masyarakatyang membentuk sebuah komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lewat fokus (economics of scale) dan keutamaan tenaga kerja, serta memajukan keragaman intelektual, kebudayaan, dan acara wisata di kota-kota. Menurut riset psikologi secara sosial, lazimnya masyarakat kota cenderung



  • Individual


Individualis sebab mereka merasa sudah tidak terikat lagi dengan tradisi. Mereka lebih mementingkan kesenangan dan kesejahteraan diri sendiri dibandingkan orang lain, kalau sebuah tindakan akan menguntungkan beliau tetapi merugikan orang lain, penduduk kota akan dengan senang hati melakukan hal tersebut.




  • Gesselschaft




Memandang kerjasama selaku gesselschaft atau korporasi dimana semua ada untung-ruginya, tidak secara gemeinschaft yang berarti kerjasama dan gotong-royong.




  • Keluarga




Manusia condong enempatkan dirinya sebagai individu, ketimbang bab dari keluarga. Oleh alasannya adalah itu, keluarga utuh (nuclear family) lebih umum ada di desa dibandingkan dengan di kota.




  • Pernikahan dan Hubungan Cinta




Banyak perkara percintaan dan pernikahan antar-golongan dan alasannya adalah sama-sama cinta/suka, bukan lagi sebab dijodohkan atau sistem-metode lainnya. Atmosfir hubungan yang lebih terbuka ini juga kerap menyebabkan banyak terjadi pergaulan bebas, selain itu angka perceraian juga relatif lebih tinggi dibandingkan di pedesaan.




  • Pekerjaan




Secara umum pekerjaan di kota didominasi oleh sektor industri, jasa dan administratif. Pembagian pekerjaan dan keutamaan peran sudah sungguh lumrah terjadi, hal ini dilaksanakan untuk memajukan produktivitas.




  • Ketimpangan Kelas




Kota mempunyai semua jenis penduduk, dari yang paling kaya sampai yang paling miskin. Rumah-rumah glamor, dan villa megah terkadang terlihat kontras dengan pemukiman kumal di sampingnya, kadang-kadang di antaranya ada apartemen dan perumahan-perumahan kelas menengah, sungguh terlihat perbedaannya, padahal mereka berada dalam kota yang serupa.




  • Heterogenitas




Jika pedesaan dianggap selaku simbol homogenitas budaya, maka kota-kota dilihat sebagai simbol heterogenitas. Penduduk perkotaan biasanya terdiri dari ras dan kalangan yang berbeda, mereka juga mempunyai budaya, keadaan hidup, makanan kesukaan, dan temperamen yang berlawanan-beda.




  • Jarak Sosial/Kesenjangan Hubungan Sosial




Kesenjangan sosial merupakan hasil dari anonimitas dan heterogenitas. Kebanyakan interaksi antar individu di perkotaan bersifat impersonal dan tersegmentasi. Terdapat rasa ketidakpedulian kepada hidup orang lain, salah satu manifestasi ini adalah budaya NIMBY.




  • Sistem interaksi




Sistem interaksi komunitas perkotaan didasar pada grup-grup ketertarikan (interest group). Lingkup kontak sosial (social circle) yang ada di kota lebih luas dari yang ada di pedesaan. Hal ini disebabkan oleh heterogenitas kota itu sendiri, sehingga untuk berinteraksi dengan lebih intens, diperlukan suatu ketertarikan bersama. Mayoritas kontak dan korelasi yang terjadi di kota yaitu relasi sekunder yang bersifat impersonal dan berjalan dalam jangka waktu yang singkat.




  • Mobilitas Sosial




Pada lingkungan perkotaan, status sosial yang disandang oleh seseorang tidak terpaku pada aspek hereditas, mirip siapa ayahnya, dan apa nama keluarganya, melainkan menurut faktor pencapaian pribadi, kecerdasan, dan koneksi yang beliau bangun. Hal ini menerangkan bahwa mobilitas sosial di kota lebih tinggi, sehingga orang yang mulanya dianggap rendah mampu naik ke posisi yang tinggi jika beliau berupaya keras.




  • Materialisme




Dalam komunitas perkotaan, keberadaan manusia umumnya berkorelasi berpengaruh dengan kekayaan yang ia miliki. Status sosial dan pandangan penduduk ditentukan bukan oleh siapa dia, melainkan beliau punya apa, oleh sebab itu kehidupan perkotaan kental dengan yang namanya simbol kekayaan (status symbols) mirip mobil glamor, jam glamor, tas branded, dan busana desainer.




  • Rasionalitas




Penduduk perkotaan lazimnya lebih bahagia beradu argumen dan menimbang-nimbang sesuatu menggunakan pendekatan rasional, umumnya, hubungan mereka dengan orang lain dibangun dan diputuskan menurut pertimbangan cost benefit, jikalau sesudah ditimbang maka korelasi itu akan lebih merugikan beliau, maka hubungan itu akan secepatnya ditentukan. Hubungan yang terjadi juga lazimnya bersifat kontraktual, dikala persetujuan tersebut habis, umumnya hubungan juga ikut putus.




  • Anonimitas




Karena populasi penduduk yang besar dan heterogen, masing masing individu biasanya tidak memedulikan individu yang lain yang tinggal berdekatan dengannya, mereka hanya sebatas tahu bahwa ada tetangga yang tinggal didekatnya. Dari segi pemerintahan, orang juga kerap berubah menjadi data statistik, hanya satu angka dalam lautan angka yang lain, berbeda dengan di desa, yang mana pemerintahan lokalnya (kepala desa, atau yang sejenis) mengenal dengan nama semua orang yang tinggal di desanya.




  • Perubahan Drastis Budaya




Masyarakat perkotaan biasanya sudah meninggalkan tradisi dan bagian-unsur sakral yang kental dari komunitas pedesaan. Semakin usang berada di kota mereka akan semakin terpengaruh oleh pola hidup ultramodern yang rasional dan bersifat individual serta materialistis.




  • Klub dan Asosiasi




Karena mayoritas interaksi penduduk perkotaan yakni impersonal, dan bersifat formal, maka penduduk kota ingin mencicipi dan membangun kekerabatan sosial yang murni alasannya adalah saling ingin bekerjasama. Oleh alasannya adalah itu terdapat klub, perkumpulan, dan grup-grup serta perkumpulan sekunder yang lain yang disatukan oleh tujuan yang serupa atau kesukaan yang sama.




  • Kontrol Sosial




Kontrol sosial dalam komunitas perkotaan biasanya bersifat formal. Perilaku individu dikelola oleh polisi, hukum tertulis, pengadilan, dan bahaya penjara. Beda dengan di desa, kontrol sosial khususnya yaitu cemoohan tetangga, dan petuah-petuah dari yang ketua budbahasa dan sosok otoritas.


 


Aspek Demografis


Aspek demografis dari perkotaan adalah jumlah orangnya yang banyak, dan kepadatan penduduknya yang tinggi. Selain itu, kota juga menjadi target immigrasi dari desa, ataupun kota lain. Umumnya biar suatu pemukiman dapat dikategorikan selaku kota, ia mesti mempunyai penduduk sejumlah 50.000 jiwa, dan mempunyai kepadatan penduduk minimal 1.000 jiwa per mil, atau sekitar 625 jiwa per kilometer persegi (US Census Bureau).


 


Aspek Administratif


Setiap kota mempunyai batas-batas batasan formal yang memilih hingga mana kawasan yurisdiksi kota tersebut, oleh sebab itu, sebuah kota dapat dikatakan memiliki aspek administrasi untuk lokasi. Selain itu kota juga dikelapai oleh seorang walikota, beliau dan jajarannya bertugas menentukan berjalannya kegiatan dengan tanpa kendala di kota tersebut, ini merupakan salah satu faktor manajemen lainnya.


 


Aspek Ekonomi


Free stock photo of dawn, sunset, industry, sunrise


Kota menurut aspek ekonomi adalah pemukiman yang memiliki fungsi selaku penghasil buatan barang dan jasa, sehingga dapat mendukung kehidupan penduduknya dan menunjang keberlangsungan pemukiman itu sendiri. Kota selaku aglomerasi dari aktivitas ekonomi merupakan penyumbang produk domestik bruto yang besar bagi suatu negara. Kegiatan ekonomi dalam kota biasanya dibagi menjadi empat yakni




  • Publik




Kegiatan ekonomi sektor publik meliputi pelaksanaan pemerintahan kota, penyediaan fasilitas dan prasarana oleh pemerintah, dukungan dana derma oleh pemerintah, dan sektor-sektor lainnya yang dijalankan oleh pemerintah atau negara dengan menggunakan uang pajak.




  • Private/swasta




Kegiatan ekonomi sektor swasta meliputi semua perusahaan yang mencari untung (for profit) dan tidak dimiliki oleh negara. Perusahaan-perusahaan seperti Microsoft, Nestle, FedEx, Gojek, Indofood, dan Lenovo ialah contoh dari perusahaan swasta.




  • Khusus




Sektor ekonomi khusus meliputi organisasi-organisasi non-profit, volunteer, dan NGO (Non Governmental Organization). Mereka tidak diselenggarakan oleh pemerintahan, ataupun oleh administrasi swasta yang for profit.




  • Informal




Sektor informal yakni sektor yang kerap kurang diamati. Sektor ini meliputi pekerjaan-pekerjaan yang tidak diregulasi mirip pedagang koran, penjualasongan, dan pemulung sampah.


 


Referensi


United States Census Bureau


Karim, Taufik.


Mondal, Puja.


Waugh, David (2007). Geography an Integrated Approach. Nelson Thornes



Sumber ty.com

Friday, November 6, 2020

Komponen Perkotaan Menurut 3 Ahli

Suatu kota memiliki elemen-unsur tertentu yang membuatnya unik dibandingkan kota lain. Elemen-unsur ini merupakan penyusun dasar dari kota tersebut. Semua sifat fisik dan sosial sebuah kota bergantung pada komposisi komponen ini. Apa saja komponen tersebut? simak klarifikasi dari Doxiadis, Patrick Geddes, dan Kevin Lynch dibawah ini




Menurut Doxiadis


5 Elemen Perkotaan Doxiadis


Doxiadis, dalam bukunya ekistics membagi komponen perkotaan menjadi 5 bagian yang saling berhubungan ialah



  • Antropos (insan)


Manusia, berdasarkan Doxiadis merupakan pemain sentral dalam perkotaan, tanpa adanya insan, perkotaan tidak akan terbentuk. Perkotaan dan daerah terbangunnya berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemauan insan yang tinggal di wilayah tersebut.



  • Nature (alam)


Faktor alam seperti iklim, vegetasi arah angin, dan topografi sungguh penting dalam menentukan kemajuan sebuah kota, selain mempengaruhi secara fisik, ia juga dapat menghipnotis secara sosial masyarakatkota tersebut. Untuk pembahasan lebih lanjut perihal faktor fisik suatu kota, mampu dilihat di aspek kota.



  • Shells (ruang)


Ruang spasial, atau shells ialah lahan daerah suatu kota berada. Dari namanya sendiri kita sudah tahu bahwa tanpa adanya cukup ruang, tidak mungkin ada kota. Kecuali kalau anda ingin membangun kota bawah tanah, atau kota vertical.



  • Network (jaringan)


Jaringan yang dimaksud disini adalah apapun yang menghubungkan suatu daerah dengan tempat yang yang lain. Contoh jaringan ialah transportasi mirip jalan raya dan jalan setapak, mereka mampu mempengaruhi bentuk kota alasannya adalah pergerakan dalam kota tersebut tergantung kepada jaringan-jaringan angkutanyang sudah ada, cukup sukar dan mahal membuat jaringan transportasi baru, sehingga kota-kota meningkat sesuai dengan jalur angkutanyang sudah ada.


Contoh perkembangan yang dipengaruhi oleh jaringan ialah kemajuan kota sektoral berdasarkan Hoyt. Selain itu, sekarang juga telah ada konsep transit oriented development yang mempengaruhi harga tanah dan kepadatan penduduk disekitarnya.



  • Society (masyarakat)


Faktor masyarakat juga berperan penting dalam perkotaan. Masyarakat merupakan aglomerasi dari unsur-komponen insan, dengan adanya masyarakat, individu-individu antropos tersebut mampu melaksanakan pergeseran. Contoh dari efek masyarakat kepada struktur kota yakni versi-versi kota Burgess, Hoyt, dan Harris-Ullman.


 


Menurut Patrick Geddes


Pendekatan Place Work Folk Patrick Geddes


Patrick Geddes mensimplifikasi elemen perkotaan menjadi 3 aspek yang menurutnya paling dasar dan terpenting untuk ada di suatu kota, beliau memodifikasi teori sosiolog Prancis Le Play yang berbuny “Place, Work, Family” menjadi place, work, folk.



  • Place


Menurut Geddes, place yakni lokasi dimana seseorang hidup dan menetap. Setiap kota mesti mempunyai place bagi penduduknya untuk tinggal. Tanpa adanya place, orang tidak mungkin tinggal di kota tersebut, sehingga mereka terpaksa tinggal di jalan-jalan dan menjadi squatter, atau bermigrasi mencari pemukiman lain yang dapat prospektif mereka kehidupan yang lebih baik, teladan aktual dari ini ialah migran-migran dari timur tengah yang terpaksa berpindah ke Eropa dan Turki dikarenakan rumah mereka hancur oleh konflik bersenjata.



  • Work


Work mampu diartikan sebagai pekerjaan. Tanpa adanya pekerjaan, seseorang tidak akan mau tinggal di suatu daerah, mereka memerlukan sesuatu yang mampu menyibukkan diri, dan memberikan pemasukan semoga mereka mampu hidup dengan pantas. Oleh sebab itu, semua kota membutuhkan adanya lapangan pekerjaan, dan pekerjaan yang dapat dijalankan.



  • Folk


Folk atau insan dan masyarakat dianggap Geddes sebagai komponen penting perkotaan. Kedua unsur sebelumnya adalah work dan place tidak aka nada gunanya bila tidak ada penduduk yang akan tinggal di kota tersebut. Penduduk menjadi pencetus utama dari setiap kota yang ada di dunia, sebab sampai dikala ini, belum ada kota yang sepenuhnya automatis, dan mampu berlangsung sendiri tanpa intervensi manusia. Contoh positif dari kota yang mempunyai place dan work namun tidak memiliki folk yakni kota-kota boomtown China yang dibangun untuk mengakomodasi urbanisasi besar-besaran rakyatnya, namun kesalahan dalam perhitungan dan overestimasi menciptakan mereka menjadi kota-kota hantu yang terbengkalai.


 


Menurut Kevin Lynch


Teori Desain Kevin Lynch


Kevin Lynch membuat terobosan gres dalam mendefinisikan bagian perkotaan, dia membaginya menjadi 5 komponen, namun semua unsur tersebut terkait dengan fenomena keruangan, alasannya adalah menurutnya fenonema keruangan ialah bentuk representasi dari fenomena sosial penduduk . Kelima unsur tersebut adalah



  • Path


Path merupakan jalur transportasi mirip jalan raya, rute pedestrian, jalan setapak, dan rute-rute yang lain yang menunjang pergerakan manusia dan barang dalam suatu kota. Menurut Lynch, path merupakan unsur yang secara umum dikuasai di kota-kota, dengan unsur-komponen yang lain tersebar mengikuti teladan dari path yang telah ada.



  • Node


Nodes ialah tempat strategis dalam sebuah kota. Tempat ini merupakan pemusatan dari aneka macam komponen sehingga pengunjung mampu mengakses kawasan atau komponen lain yang terhubung dengan node ini. Contohnya yaitu pusat kota, daerah persimpangan, dan alun-alun.



  • Landmark


Landmark ialah obyek yang menjadi jangkar (anchor) dari suatu daerah. Bentuknya yang unik dan mudah dikenang dapat menolong orang untuk bernavigasi dalam kota, sehingga tidak salah jalan. Contoh navigasi memakai landmark yang sering kita dengar ialah “Belok kiri sesudah patung polisi” atau “Awas di deket simpang dago ada razia” mereka menggunakan landmark patung polisi dan simpang Dago untuk melabeli suatu kawasan, dan tanpa harus menyebut lokasi absolutnya, mirip alamat, orang-orang telah tahu dimana lokasi kedua obyek tersebut, karena mereka ialah landmark.



  • District


District ini lazimnya memiliki area yang cukup besar dan diisi dengan obyek-obyek yang memiliki karakteristik mirip sehingga dikelompokkan menjadi satu area yang sama. Ketika memasuki sebuah district, hadirin akan mampu mencicipi pergantian. Contoh untuk district ini adalah Chinatown, little India, kota renta, atau kalangan-kalangan tematis lainnya.



  • Edge


Edge ialah pembatas antara satu region dengan region lainnya. Ia dapat berbentukpembatas keras seperti pagar, sungai, atau rel kereta, ataupun pembatas halus seperti persepsi penduduk , harga tanah, atau keadaan sosioekonomi sekitar.


 


Referensi


Doxiadis. (1968). Ekistics


Lynch, Kevin. (1960). The Image of the City.


W.A Howard. (1969). Ekistics


Wikipedia.


DAB525 – Architecture in the city.



Sumber ty.com

6 Cara Mengklasifikasi Kota


Untuk membedakan kota satu dengan yang lainnya, selain menamai kota tersebut, kita juga perlu menciptakan metode pembagian terstruktur mengenai kota untuk menggolongkan kota-kota tersebut.





Dalam ilmu perkotaan, sangat susah mengelompokkan kota alasannya adalah terdapat aneka macam aspek yang saling bekerjasama. Meskipun demikian, ada beberapa cara lazim yang kerap dipakai untuk menggolongkan kota-kota yang dianggap setara.






Berdasarkan Penduduk





  1. Megapolitan : > 5 juta jiwa
  2. Metropolitan : 1 juta – 5 juta jiwa
  3. Kota Besar : 500.000 – 1 juta jiwa
  4. Kota Sedang : 100.000 – 500.000 jiwa
  5. Kota Kecil : 20.000 – 100.000 jiwa




Ini adalah kategoriasasi kota berdasarkan penduduk yang biasa diajarkan di Indonesia, baik oleh guru-guru, maupun oleh buku pelajaran geografi. Namun ternyata masih banyak cara lain untuk mengkategorikan kota.





 



Harold Maclean Lewis





Harold menyampaikan bahwa tren pertumbuhan tempat urban dicerminkan oleh populasinya. Klasifikasinya sedikit mirip dengan desain menurut populasi diatas, namun terdapat beberapa perbedaan di klasifikasi kotanya.





  1. Eopolis/Infantile :500 – 5.000 jiwa
  2. Polis/Juvenile :000 – 10.000 jiwa
  3. Mature Trade/ Industrial town :000 – 25.000 jiwa
  4. Metropolis / Medium sized city :000 – 50.000 jiwa
  5. Megalopolis / Intermediate city :000 – 100.000 jiwa
  6. Trade/Industry/Service sector city :000 – 250.000 jiwa
  7. Primate city :000 – 500.000 jiwa
  8. Tyranopolis/Metropolitan :000 – 1.000.000 jiwa
  9. Senile/Mega city : >1.000.000 jiwa




Namun jikalau menggunakan klasifikasi dari Harold Maclean Lewis, semestinya telah aneka macam kota senile, karena ketika ini sudah banyak kota yang mempunyai penduduk diatas 1 juta jiwa, oleh alasannya itu menurut penulis penjabaran Harold kurang tepat kalau digunakan di zaman terbaru ini.





 



Berdasarkan Fungsi





Pembagian kota menurut fungsinya untuk Indonesia ada 3 ialah Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal. Sedangkan secara global, terdapat 4 klasifikasi khusus untuk kota menurut fungsinya, yaitu kota administratif, hukum, ekonomi, dan aktivitas khusus.





Selain dua kategori diatas, terdapat pula fungsi kota selaku global cities, atau kota yang tidak hanya melayani tempat sekitarnya, melainkan melayani seluruh dunia pada bidang tertentu.





Global Cities Index menurut A.T Kearney
Global Cities Index berdasarkan A.T KearneyA.T Kearney




Menurut A.T Kearney Global Cities Index, terdapat 5 klasifikasi global cities ialah





  • Business Activity




Meliputi aktivitas bisnis, pasar modal, perdagangan dan pusat kantor-kantor perusahaan besar. Kota-kota yang menjadi leader di business activity ini memiliki efek ekonomi yang sangat besar kepada perekonomian dunia, entah karena kebijakan-kebijakan diambil disitu, atau alasannya adalah semua transaksi dan kegiatan bisnis mengacu pada mereka sebagai best practice.





  • Human Capital




Meliputi sumber daya manusia, rasio masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi, jumlah institusi pendidikan, dan jumlah siswa/mahasiswa internasional yang ada di kota tersebut. Kota-kota human capital ini terkenal sebagai kota immigrasi, melting pot, dan kota pelajar mewah internasional.





  • Information Exchange




Kota-kota yang menjadi global cities information exchange mempunyai eksistensi yang tinggi pada media tukar informasi, mirip internet, televisi, atau media cetak. Kota-kota ini memiliki banyak firma yang bergerak pada bidang pertukaran info, sehingga menjadi padanan kata dengan kota media. Selain itu, kota yang menajdi global cities dalam information exchange ini juga kerap memiliki jejak digital (digital footprint) yang tinggi, dengan eksistensi digital warganya yang mampu dinikmati di seluruh dunia. Idealnya, karena menjadi sentra pertukaran info dan mempunyai jaringan telekomunikasi yang baik, kota-kota ini juga mempunyai warga yang up to date dengan gosip-informasi kekinian dunia.





  • Cultural Exchange




Kota-kota yang didanggap sebagai kota budaya mempunyai pesona yang tinggi dalam bidang kebudayaan, mulai dari arsitekturnya, museumnya, event-eventnya, hingga makannya. Kota-kota ini kerap mengandalkan keragaman budaya mereka untuk mempesona turis gila yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai budaya. Kota-kota yang memiliki kelebihan pada bidang kuliner juga kerap berlomba mengakumulasi bintang Michelin untuk kedai makanan-restorannya supaya terlihat lebih prestisius.





  • Political Engagement.




Kota-kota yang mempunyai keunggulan di bidang politik memiliki efek politik bukan hanya pada negaranya, melainkan pada daerah dan juga benuanya. Umumnya mereka memiliki banyak organisasi-organisasi berdaya jangkau multinasional yang bermarkas disana, mirip NGO, think tanks, dan organisasi antarpemerintah. Mereka juga kerap menjadi tuan rumah pertemuan politik dan pembahasan politik, mirip Brussels untuk Uni Eropa.





 



Lewis Mumford





  • Eopolis




Tahapan ini ialah tahapan permulaan, pemukiman masih bersifat komunitas perdesaan dengan basis ekonomi agrikultur





  • Polis




Setelah eopolis meningkat dan mengalami spesialisasi kerja serta mekanisasi, beliau berkembang menjadi polis.





  • Metropolis




Metropolis merupakan kota yang menjadi ibu kota bab provinsi atau daerah setempat. Ia umumnya ialah gabungan dari beberapa polis yang beraglomerasi





  • Megalopolis




Megalopolis ialah tahap dimana indikasi kemunduran sebuah kota mulai timbul. Masalah-persoalan ini muncul antara lain karena terlalu suksesnya pertumbuhan kota itu sendiri, sehingga terhadi hal-hal yang tidak diharapkan, seperti overpopulasi, dan kemacetan deadlock. Hal ini biasanya terjadi saat sebuah metropolis bergabung dengan metropolis lainnya, atau mengabsorbsi polis lain yang cukup besar sehingga manajemen kota tidak dapat bereaksi cukup cepat untuk menuntaskan dilema yang timbul.





  • Tyranopolis




Tahap ini mengindikasikan bahwa kondisi kota tersebut sudah menurun secara drastis, entah sebab dilema internal ataupun eksternal. Contoh dari tyranopolis ini yakni kota yang terkena efek pertempuran dan krisis ekonomi.





  • Necropolis




Tahap ini merupakan kemajuan dari tyranopolis, ketika mencapai tahap ini, kota telah ditinggalkan oleh penduduknya karena telah tidak mungkin ditinggali. Contoh kota yang mirip ini adalah kota-kota di timur tengah dan afrika yang hancur terkena efek peperangan.





 



Griffith Taylor





Menurut Griffith Taylor, semua kota di dunia niscaya melewati empat tahap perkembangan, yakni infantile, juvenile, mature, dan senile.





Infantile





Tahapan permulaan semua kota dimana peraturan zonasi dan separasi belum dibentuk. Semuanya masih menyatu dalam satu zona besar yang disebut kota.





Juvenile





Pada tahap ini, zona residensial telah dipisahkan dari zona komersial. Terdapat pula beberapa zona industri kecil yang mulai beroperasi.





Mature





Pada tahap ini, sudah terjadi divisi antara zona residensial, komersial, dan industrial pada kota. Peraturan zonasi kota juga telah mulai terperinci dan terbentuk.





Senile





Pada tahap ini, kota telah terdegradasi baik dari sisi fisik, sosial, maupun potensial ekonominya. Contohnya ialah kota-kota rust belt Amerika Serikat mirip Detroit





 



Ekistics Doxiadis





  1. Anthropos : 1 jiwa
  2. Room (seruang) : 2 jiwa
  3. House (rumah) : 5 jiwa
  4. Housegroup (hamlet) : 40 jiwa
  5. Small Neighborhood (village) : 250 jiwa
  6. Neighborhood (village) : 1.500 jiwa
  7. Small Polis (town) : 10.000 jiwa
  8. Polis (city) : 75.000 jiwa
  9. Metropolis kecil : 500.000 jiwa
  10. Metropolis : 4 juta jiwa
  11. Megalopolis kecil : 25 juta jiwa
  12. Megalopolis : 150 juta jiwa
  13. Eperopolis kecil : 750 juta jiwa
  14. Eperopolis : 7.5 milyar jiwa
  15. Ecumenopolis : 50 milyar jiwa




Doxiadis dalam bukunya ekistics membagi ukuran kota menjadi 15 kelompok seperti yang mampu kita lihat diatas.





 



Referensi





AT Kearney. Global Cities 2017: Leaders in a World of Disruptive Innovation.





Doxiadis. (1968). Ekistics





Kumar, Ravindra. Trends in Urban Growth & Objectives of Sound Planning.



Sumber ty.com

Thursday, November 5, 2020

Bentuk Kota


Suatu kota dengan segala isinya pasti akan mengalami kemajuan dari waktu ke waktu. Aktivitas sosial, ekonomi, dan politik di sebuah kota mampu menghipnotis bentuk dan struktur kota tersebut.





Aktivitas sosial, ekonomi, dan politik pastinya memerlukan lahan dalam menjalankan dan menunjang keberjalanan aktivitasnya, oleh alasannya itu, mereka akan membeli dan membangun lahan sesuai dengan kebutuhan mereka.





Jika suatu kota dibangun tanpa perencanaan yang baik, maka penggunaan lahannya akan mengubah bentuk kota serta pola-contoh yang telah ada. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan rencana yang masak dan terarah. Perencanaan yang terarah biasanya akan menimbulkan kota bermetamorfosis salah satu dari 4 tipe besar dibawah ini.





Bentuk umum kota
Diagram Umum Bentuk Kota




Menurut diagram bentuk kota diatas, terdapat dua sumbu ialah sumbu pusat kota yang disimbolkan dengan monocentric dan polycentric, serta sumbu persebaran yakni centralised dan dispersed. Dari diagram diatas, kita mampu menyimpulkan bahwa secara umum terdapat 4 bentuk kota, yaitu centralised monocentric, centralised polycentric, dispersed monocentric, dan dispersed polycentric.






Kota Polisentrik & Monosentrik





Kota Monosentrik dan polisentrik
Jaringan Transit Kota Monosentrik dan Polisentrik




Kota polycentric memiliki banyak inti pembangunan yang persebarannya acak dalam kawasan urban sebuah kota. Kota-kota mirip ini biasanya tercipta setelah adanya pertumbuhan dalam bidang transportasi seperti kendaraan langsung dan dalam bidang telekomunikasi seperti telefon dan internet. Kota polycentric cenderung lebih tersebar dan biasanya tidak sepadat kota-kota monocentered, baik dalam kepadatan bangunan maupun kepadatan penduduk. Contoh kota polycenter ialah Detroit





Kota monocenter identik dengan penduduk pra revolusi industri, kota ini menitikberatkan kepada aglomerasi banyak sekali komponen masyarakat dalam daerah yang kecil supaya mempermudah komunikasi dan transportasi, lazimnya kota monocenter mempunyai kepadatan penduduk dan bangunan yang lebih tinggi. Contoh kota monocenter yakni Roma.





Bentuk Kota Kompak dan Tidak Kompak





Menurut Hudson dan Yunus, terdapat 2 tipe bentukan kota, yakni kompak dan tidak kompak. Kompak dan tidak kompak ini didasari pada faktor morfologi dari kota itu sendiri.





Kota Kompak





Kota Kipas (Fan shaped city)





Kota Kipas
Ilustrasi Kota berupa Kipas




Bentuknya sebagian lingkaran, arah ke luar kota mempunyai pertumbuhan yang relative sebanding. Bentuk kipas ini disebabkan oleh adanya kendala-kendala yang menghambat kemajuan kota pada arah-arah tersebut, penghambat ini mampu diklasifikasikan menjadi dua ialah alami dan imitasi.





Hambatan alami meliputi hambatan-kendala fisik mirip pegunungan, sungai, dan jurang, sedangkan kendala imitasi meliputi hambatan sosial seperti penolakan pembangunan, delineasi area lindung, dan problem zonasi. Contoh dari kota kipas ini yaitu Chandigarh di India.





 



Bujur Sangkar (Square City)





Kota bujur sangkar
Ilustrasi Kota Bujur Sangkar




Bujur sangkar menawarkan sebuah bentukan kota yang rasional dan murni nalar, bujur kandang ialah bentuk yang netral dan tidak mempunyai arah.





Kota berupa ini lazimnya bertumbuh di sepanjang jalur angkutandan mempunyai kesempatan perluasan yang relative sebanding ke segala arah. Kota berbentuk bujur sangkar umumnya tidak memiliki penghambat pembangunan dari segi fisik yang mempunyai arti, alasannya adalah kalau ia mempunyai kendala fisik, maka bentuknya tidak akan bujur sangkar.





Keberadaan jalur angkutanpada ujung-ujung kota ini kerap menyebabkan perkembangan kota ke jalur-jalur yang bersangkutan. Contoh dari kota bujur kandang ini ialah kota Herat di Afghanistan.





 



Kota Persegi Panjang (rectangular city)





Kota persegi panjang
Ilustrasi Kota Persegi Panjang




Bentuk kota ini pertumbuhannya memanjang ketimbang melebar, hal ini dimungkinkan alasannya adanya kendala fisik maupun terhadap pertumbuhan areal kota pada salah satu sisinya. Ia lazimnya memiliki kemiripan dengan teladan ribbon, hanya saja terdapat constraint pembangunan yang menjadikannya berbentuk mirip persegi panjang





 



Kota Memanjang (Ribbon)





Kota Ribbon
Ilustrasi Kota Pola Ribbon




Memiliki bentuk mirip dengan rectangular city, tetapi karena bentuk memanjangnya jauh lebih lebih banyak didominasi dibandingkan bentuk melebarnya, maka ia dikategorikan secara terpisah. Dari bentuknya yang sungguh memanjang dapat tampakbahwa perkembangan kota ini sungguh didominasi oleh peranan jalur transportasi.





 



Kota Bulat/Lingkaran (Round City)





Kota Baghdad
Ilustrasi Kota Baghdad Kuno




Merupakan bentuk kota yang dianggap ideal, alasannya adalah jarak dari sentra kota ke ujung-ujung terluar kota nyaris sama. Selain itu, kemajuan pembangunan keluar area kota terjadi dengan cepat.





Kota-kota mirip ini kerap ditemukan pada era lalu yang mana kemajuan kota sungguh diatur oleh eksistensi posisi pertahanan dan kebijakan raja/tuan tanah yang berkuasa. Contoh dari kota ini ialah kota Baghdad antik yang bentuknya dipengaruhi oleh bentuk bentengnya yang melingkar.





 



Kota Gurita/Bintang (Star City)





Kota Bintang
Ilustrasi Kota Berpola Bintang/Gurita




Merupakan bentuk kota yang jalur transportasinya seperti dengan ribbon city, tetapi pada bentukan ini, jalur transportasi tidak cuma satu arah, namun memiliki aneka macam arah, oleh alasannya adalah itu beliau disebut bentukan gurita/bintang.





 



Kota Tidak berpola (Unpatterned)





Kota ini merupakan terbentuk pada kawasan khusus, yakni tempat dimana aspek pendorong kemajuan kota tersebut sungguh besar lengan berkuasa dan tidak terkait kondisi fisik wilayah, hal ini menjadikan adanya kota yang berkembang secara acak tanpa mengikuti constraints yang diberikan oleh wilayah dimana beliau meningkat .





 



Kota Tidak Kompak





Kota Berantai (Chain Cities)





Kota Rantai
Ilustrasi Kota Rantai




Kota ini ialah bentuk kota yang terpecah namun cuma terjadi di sepanjang rute tertentu. Kota ini berbentuk seperti mata rantai yang dibentangkan dan direkatkan oleh suatu penghubung. Umumnya penghubung ini ialah jalur transportasi, oleh alasannya adalah itu, faktor pengontrol utama kota berantai ini yakni jalur transportasi dan juga aspek fisik area tersebut.





Contoh dari chain city ini yakni kota-kota di pantai utara Jawa yang mayoritasnya terbentuk karena adanya jalur Anyer-Panarukan (Grote Postweg). Karena kuda membutuhkan istirahat sesudah sehari penuh berlangsung, maka dibuat peristirahatan dan kota di sepanjang jalur tersebut.





Namun, laju urbanisasi, pertumbuhan penduduk serta migrasi masuk yang meningkat membuat kota-kota tersebut mulai berubah menjadi kota besar dengan acuan ribbon ataupun stellar/satellite.





 



Kota Terpecah (Fragmented Cities)





Kota Sao Paulo
Ilustrasi Kota Sao Paulo




Pada bentuk kota ini, ekspansi areal kota tidak pribadi menyatu dengan induk nya (city center), melainkan tersebar dan membentuk exclave tersendiri.





Umumnya exclave tersebut ialah kawasan pemukiman yang mulanya bersifat desa, namun berkembang dan mengalami urbanisasi sehingga menjadi bersifat perkotaan. Contoh dari kota terpecah ini ialah Sao Paulo





 



Kota Terbelah (Split Cities)





Kota Terbelah
Ilustrasi Kota Terbelah




Bentuk kota mirip ini ialah bentuk kompak namun terbelah oleh perairan yang cukup lebar. Kota tersebut terdiri dari dua bagian terpisah yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan ataupun terowongan. Contoh dari kota terbelah yaitu Istanbul dan Budapest





 



Kota Stellar (Stellar City)





Kota Stellar
Ilustrasi Kota Stellar




Bentuk stellar merupakan bentuk kota yang didukung oleh majunya angkutandan komunikasi yang karenanya memungkinkan terjadi koneksi intens antara banyak bagian-bagian kota, sehingga memunculkan suaatu megapolitan, atau metro area.





Biasanya bentukan seperti ini terdapat pada kota besar yang dikelilingi oleh kota-kota atau pemukiman yang kecil. Karena interaksi yang sungguh intens, lama kelamaan, kota-kota satelit akan melebur dan menyatu ke dalam kota besar tersebut.





 



Bentuk Kota yang lain





Orthogonal Gridiron





Kota Gridiron
Ilustrasi Kota Orthogonal Gridiron




Kota dengan contoh ini biasanya mengalami persebaran perkembangan yang serupa secara biasa tanpa adanya perbedaan yang mempunyai arti, dan mempunyai pusat lokal utama. Bentuk ini umumnya terdapat di kota-kota yang wilayahnya datar dan tidak memiliki penghambat fisik ataupun sosial yang berarti.





Bentuk-bentuk seperti ini lazim ditemui di kota-kota Amerika Serikat alasannya adalah dominan kota mereka adalah murni hasil penyusunan rencana, dan tidak berkembang secara organik mirip pada umumnya kota-kota di Eropa. Contoh kota yang memakai gridiron plan ini adalah Philadelphia, Chicago, dan San Francisco.





 



Kota Jaring Laba-Laba (Spiderweb)





Kota Jaring Laba Laba
Ilustrasi Kota Pola Jaring Laba-Laba




Bentuk jaring keuntungan-laba ini ialah bentuk kota yang sungguh lazim terjadi di dunia, kota ini memiliki kepadatan yang tinggi. Umumnya acuan spiderweb ini terjadi di kota-kota penting yang ialah pusat dari aktivitas di daerah setempat masing-masing.





Jaring laba keuntungan ini disebabkan oleh acuan jalan yang menyilang kota sehingga terlihat seakan ada jaring keuntungan-keuntungan. Contoh kota yang berupa spider web ini yaitu Canberra di Australia.





 



Sirkuit Linier atau Kota Cincin (Ring Cities)





Kota Cincin
Ilustrasi Pola Kota Circuit Linear




Terdiri dari beberapa pusat kota yang meningkat disepanjang jalan utama yang melingkar. Area tengah kawasan tetap dipertahankan sebagai kawasan terbuka/hijau. Masing-masing sentra mampu berkembang menjadi kota besar.





Contoh faktual ring cities yakni Randstad Holland di Belanda yang menghubungkan pusat-sentra kota Utrecht, Rotterdam, Den Haag, Harlem, Amsterdam, dan beberapa kota kecil lainnya.





 



Kota Bertembok (Walled City)





Kota Tembok
Ilustrasi Kota Tembok




Walled city terbentuk alasannya kemajuan kota yang dibatasi oleh keadaan fisik topografi misalnya mirip laut, gunung, jurang, dan sebagainya. Umumnya walled city berupa seperti kota Carcasonne yang dibatasi oleh tembok pertahanan.





 



Kota Konstelasi





Kota Konstelasi
Ilustrasi Kota Konstelasi




Pertumbuhan kota secara meloncat-loncat dengan pusat daerah yang tersebar pula. Wilayah terbangunnya dihubungkan dengan jalur transportasi dari masing-masing pusat wilayah. Kota seperti ini ialah indikasi dari adanya sprawl perkotaan, namun mungkin saja ada aspek fisik atau sosial yang menghambat pertumbuhan sehingga mesti meloncat-loncat.





 



Satellite with Neighbourhoods and New Centers (Satelit dengan pusat kemajuan baru)





Kota Satelit
Ilustrasi Kota Satelit dengan Pusat Pertumbuhan Baru




Pengembangan kota satelit ini mampu berfungsi sebagai penyerap arus urbanisasi yang sangat besar ke kota utama. Kota utama dengan satelit dihubungkan oleh koridor-koridor transportasi seperti jalan raya ataupun rel kereta commuter. Contoh dari kota sentra-satelit ini ialah Jabodetabek, London, dan Gerbang Kertasusila.





Referensi





Smith, Duncan Alexander (2009) Polycentric Cities and Sustainable Development.





E.J. Meijers, M.J. Burger (2010), Spatial Structure and Productivity in  U.S Metropolitan Areas. Environment and Planning A, 42 (6), (2010), 1383-1402.





Belmont, Steve (2002). Cities in Full: Recognizing and Realizing the Great Potential of Urban America.





Layman, Richards (2012). Planning for intensity of land use: the question is at what scale are we rencana? .



Sumber ty.com

Urban Sprawl


Secara umum Urban Sprawl memiliki arti kemajuan kota menjauh dari sentra kota. Area sprawl biasanya mempunyai karakteristik fungsi yang homogen (jika perumahan rumah semua, kalau pertokoan toko semua) dan transportasinya bergantung pada kendaraan pribadi.





Istilah urban sprawl lazimnya mempunyai konotasi negatif yang sering dikaitkan dengan segregasi dan kerusakan lingkungan.






Karakteristik Urban Sprawl





Zonasi homogen





Zonasi homogen mempunyai makna bahwa zona-zona penggunaan lahan perkotaan mirip komersial, industrial, dan hunian dipisahkan satu dengan yang lainnya. Selain itu, lahan-lahan luas kerap digunakan hanya untuk satu fungsi, dan dikelilingi oleh tanah lapang.





Hal ini menyebabkan jarak antara daerah bekerja, tinggal, dan belanja serta wisata kian jauh. Jarak yang semakin jauh ini menutup kemungkinan orang-orang dapat meraih tempat-daerah tersebut cuma dengan berlangsung kaki.





Penggunaan sepeda menjadi lebih susah sebab jarak yang jauh, dan penggunaan kendaraan lazim menjadi tidak efisien alasannya rendahnya kepadatan penduduk. Semua hal diatas membuat penduduk lebih memilih memakai kendaraan eksklusif untuk berpergian.





 



Job Sprawl





Job sprawl didefinisikan sebagai persebaran pekerjaan yang memiliki densitas rendah dan tersebar di kawasan perkotaan, mayoritas pekerjaan tersebut terdistribusi di daerah suburban atau diluar wilayah CBD dari suatu kota.





Job sprawl juga memiliki korelasi yang kuat dengan zonasi homogen. Umumnya zona-zona perumahan diletakkan jauh dari zona industrial, dan zona komersial serta wisata diposisikan diantara kedua zona tersebut.





Hal ini mengakibatkan terjadinya perpindahan penduduk massal tiap pagi dan sore hari, pada pagi hari penduduk dari tempat hunian bergerak ke arah zona komersial dan industri untuk berkerja, pada malam hari mereka bergerak balik ke zona residensial untuk beristirahat di rumah mereka.





Fenomena ini berpotensi membuat kemacetan parah di pagi dan sore hari, terlebih lagi jarak yang harus ditempuh oleh para pekerja tersebut cukup jauh lantaran adanya zonasi homogen yang memisahkan kawasan kerja dengan tempat tinggal.





Job sprawl merupakan pengaruh dari murahnya harga lahan di luar kota dan kemudahan angkutanberkat kendaraan pribadi. Kedua hal diatas membuat banyak perusahaan memindahkan kantor besar mereka keluar dari wilayah kota ke wilayah-kawasan suburban agar mampu menciptakan kantor yang lebih besar.





Fenomena job sprawl ini mampu mengakibatkan kemiskinan pada pekerja-pekerja papan bawah yang memiliki kawasan kerja yang jauh. Mereka mesti menanggung ongkos transportasi yang tidak murah untuk pergi ke daerah kerja mereka.





Selain itu mereka juga potensial telat alasannya kemacetan yang parah di pagi dan sore hari, terlebih lagi jika lokasi pekerjaan mereka tidak berada di tempat CBD, maka akan lebih susah bagi mereka untuk berpergian ke sana alasannya masih belum meratanya fasiltias angkutanpublik.





 



Kepadatan Rendah





Sprawl juga kerap dikaitkan dengan pembangunan dengan kepadatan rendah. Definisi dari kepadatan rendah sebetulnya cukup ambigu dan dapat diperdebatkan, namun salah satu acuan dari pembangunan dengan kepadatan rendah yakni rumah-rumah keluarga tunggal dengan luas tanah yang besar.





Biasanya pada pembangunan dengan kepadatan rendah, bangunan-bangunan memiliki sedikit lantai dan mempunyai jarak antar bangunan yang cukup besar. Bangunan ini biasanya dipisahkan oleh pekarangan, jalan raya, dan tempat parkir.





Pembangunan dengan kepadatan rendah ini memicu penggunaan kendaraan langsung, hal ini dibutuhkan alasannya adalah terdapat jarak yang jauh antar fasilitas sehingga tidak mungkin dicapai dengan berlangsung kaki.





Karena pembangunan ini membutuhkan lahan yang luas, sering kali pertumbuhan wilayah perkotaan lebih cepat dari perkembangan penduduk perkotaan. Kepadatan yang rendah ini biasanya disebabkan oleh pembangunan berjenis leapfrog.





 



Konversi Lahan Agrikultur menjadi Lahan Perkotaan





Karena sprawl meningkat ke arah luar dari sentra perkotaan, tanah yang mereka gunakan lazimnya berasal dari komunitas-komunitas rural yang masih mengandalkan agrikultur.





Hal ini menimbulkan berkurangnya lahan produktif yang mampu dipakai untuk kegiatan agrikultur sehingga mesti didapatkan cara-cara kreatif gres mirip urban farming, hydroponics, atau aeroponics untuk menjamin ketersediaan bahan makanan bagi penduduk kota yang semakin banyak.





 



Munculnya Town House & Gated Community/Housing subdivision





Housing subdivision yaitu tanah luas yang dipenuhi oleh perumahan-perumahan yang gres dibentuk, mereka biasanya dinamai dan diberikan gerbang serta pagar untuk memajukan aspek keamanan.  Perumahan-perumahan ini kerap menimbulkan kemacetan pada jam kerja sebab mereka mempunyai satu pintu masuk dan keluar, sehingga orang-orang mesti mengantri untuk keluar atau memasuki wilayah subdivisi perumahan ini.





Town house dan gated community mampu membuat segregasi sosial. Masyarakat menengah keatas yang tinggal di dalam komunitas tersebut mampu menikmati semua akomodasi yand disediakan sedangkan penduduk kelas bawah yang tinggal disekitarnya tidak dapat mempergunakan akomodasi apapun. Padahal mereka juga terkena efek kemacetan dan polusi bunyi/cahaya dari pusat aktivitas gated community.





 



Halaman Depan/Pekarangan





Landed housing atau rumah berhalaman menjadi salah satu penanda dari urban sprawl. Secara ekonomis, rumah berhalaman hanya mampu dibuat jikalau terdapat tanah yang cukup luas dan harga tanah tersebut murah.





Oleh sebab itu di sentra kota hampir mustahil kita menemukan perumahan yang memiliki pekarangan. Kecuali rumah pejabat atau perumahan elit, nyaris siapa saja yang tinggal di sentra kota tinggal di apartemen. Selain lebih efisien kawasan, apartemen juga biasanya dibangun akrab dengan kawasan berkerja, sehingga menurunkan biaya yang perlu dikeluarkan untuk transportaasi.





 



Distrik Komersial





Wilayah sprawl juga dapat dilihat dari keberadaan supercenter komersial. Umumnya sentra-pusat perbelanjaan ini dibangun di dekat jalan raya atau jalan bebas kendala yang mempunyai kapasitas besar dan pengguna yang banyak. Sentra-sentra komersial ini umumnya mempunyai lahan parkir yang besar, namun sebab mereka mempunyai lahan yang sangat luas, mereka tidak perlu melakukan efisiensi daerah dan membangun sebuah basement.





Mereka juga lazimnya mempunyai jumlah lantai yang sedikit, sentra komersial mirip ini lebih mementingkan perkembangan ke samping dibandingkan dengan perkembangan ke atas, alasannya adalah pastinya memperluas area lebih hemat biaya ketimbang menyertakan lantai di area suburban.





 



Penyebab Urban Sprawl





Kepadatan masyarakatkota yang sedang mengalami industrialisasi condong mengikuti acuan spesifik ialah kepadatan akan meningkat ketika urbanisasi dan masyarakatakan terfokus di pusat kota dengan fokus yang semakin menurun kian jauh dari sentra kota.





Dengan bertumbuhnya ekonomi dan pembangunan jalur transportasi yang menghubungkan antar daerah, masyarakatkota tersebut, terutama kelas menengah keatas, akan cenderung berpindah ke pinggir kota, selain alasannya harga tanah lebih murah, mereka juga lebih menggemari suasana santai dan terbuka yang ada di tempat pinggir perkotaan.





Untuk problem transportasi, dominan penduduk kelas menengah keatas sudah niscaya memiliki kendaraan biasa , oleh alasannya adalah itu mereka tidak terlalu terpengaruh oleh jarak yang harus ditempuh untuk menuju ke kawasan melakukan pekerjaan mereka di sentra kota.





 



Sejarah Urban Sprawl





Inggris, 1800





Urban sprawl pertama kali diperhatikan terjadi di Inggris pada kurun ke 19. Saat itu sedang terjadi revolusi industri, siapa saja berbondong-bondong bermigrasi dari kawasan rural ke kawasan perkotaan untuk berkerja di pabrik-pabrik yang baru dibuka.





Para pengembang menyaksikan ini selaku sebuah potensi , mereka pun berbelanja tanah-tanah disekitar pabrik pabrik tersebut dan membangun rumah-rumah kecil yang memiliki halaman depan, mereka pun membangun jalan raya, metode kereta metro, jalur bus, dan jalur tram untuk menghubungkan perumahan tersebut dengan pabrik daerah mereka berkerja.





Skema ini berkerja dengan baik, aneka macam pekerja pabrik yang tinggal di kota-kota industrial tersebut. Distrik suburban yang akrab dengan sentra kota dan area CBD juga mulai berkembang, tempat itu diisi oleh pekerja pabrik yang sudah memiliki jabatan cukup tinggi sehingga dapat membeli rumah yang lebih mahal dan tak mau lagi tinggal di perumahan industrial tersebut yang kualitasnya sudah mulai menurun sebab terlalu banyak orang.





 



Inggris 1850





Pada pertengahan abad ke 19, London yang ialah kota paling besar di dunia pada dikala itu mulai mengalami tanda-tanda overpopulasi dan pencemaran lingkungan. Salah satu katalis urban sprawl kota London kala itu yakni pembukaan jalur kereta api menuju kota-kota satelit Middlesex.





Perusahaan kereta api tersebut pun menjual tanah surplus di sepanjang jalur keretanya, tanah-tanah surplus tersebut lalu dibeli dan dijadikan perumahan-perumahan gres untuk warga yang ingin keluar dari kota London yang semakin semrawut.





Pada permulaan era ke 20, sprawl di Inggris telah sangat parah sehingga muncul gerakan-gerakan untuk menghentikan urban sprawl. Komunitas pergerakan garden city dan CPRE (Community to Protect Rural England) menjadi pemeran utama dalam setiap kampanye penghentian urban sprawl.





Pada tahun 1934 diformulasikan planning untuk membuat green belt di sekitar kota London dan pada 1974 dalam dokumen Town and Country Planning Act of 1947 disetujui bahwa wajib hukumnya untuk menawarkan greenbelt di sekeliling kota-kota untuk menghentikan laju urban sprawl.





 



Proses Urban Sprawl





Ribbon Development





Ribbon development merupakan ungkapan yang disematkan pada pembangunan-pembangunan yang mengikuti jalur transportasi. Fenomena ribbon development menjadi marak di Russia, Inggris, dan Amerika Serikat paska revolusi industri, mereka memiliki banyak jalur-jalur angkutanyang menghubungkan kota-kota besar, sehingga banyak orang ingin tinggal di sekitar jalur tersebut guna membuat lebih mudah transportasi.





Pembangunan di jalur angkutanini menjadi sungguh menguntungkan bagi pengembang alasannya adalah mereka tidak perlu lagi membangun jalur transportasi gres untuk menghubungkan perumahan mereka dengan jalur transportasi publik ataupun desa/kota lainnya.





Ribbon development ini sangat berbahaya bagi kemajuan kota sebab ia merupakan pola penggunaan sumber daya kawasan yang sangat tidak efisien dan dapat menyebabkan terjadinya urban sprawl. Selain itu, ribbon development ini juga menimbulkan kemacetan pada jalan raya saat banyak orang berbondong-bondong keluar dari perumahan mereka pada pagi hari untuk pergi berkerja dan balik lagi pada malam hari untuk beristirahat





 



Leapfrog Development





Pola kemajuan leapfrog lazimnya memiliki korelasi yang bersahabat dengan urban sprawl. Perkembangan ini mempunyai karakteristik pembangunan bangunan utamanya area perumahan dan komersial secara acak, tersebar, dan jauh dari sentra kota.





Umumnya alasannya adalah ia tersebar secara acak dan memiliki jarak antar bangunan yang cukup jauh, meskipun rumah-rumahnya kecil dan memiliki penghuni banyak, pertumbuhan keapfrog tetap diasosiasikan dengan kepadatan masyarakatyang rendah.





Perkembangan leapfrog yang semakin menjauhi sentra kota kerap memaksa pemerintah untuk mengeluarkan dana perhiasan guna membangun akomodasi lazim dan infrastruktur kota pada tempat yang gres dikembangkan tersebut.





Umumnya acuan leapfrog ini terjadi saat pembangunan diserahkan terhadap pengembang dan pihak swasta. Peraturan pemerintah mengharuskan adanya pembangunan kemudahan lazim dasar mirip taman, sekolah, kawasan parkir, toko, dan sejenisnya, tetapi hal ini umumnya tidak disanggupi oleh pihak swasta sebab selain tidak menjinjing laba, pembangunan mirip ini juga membutuhkan dana yang cukup banyak.





Oleh karena itu mereka membiarkan lahan-lahan tersebut kosong, dengan luas sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari peraturan pemerintah.





Pemerintah yang juga lambat bergerak untuk mengisi kekosongan akomodasi dan infrastruktur publik ini turut membuat sprawl berjenis leapfrog. Salah satu solusinya ialah dengan mengintegrasikan pembangunan serta mengembangkan komunikasi antara pihak swasta dan pemerintah,  hal ini perlu dilakukan supaya pembangunan tempat dan infrastruktur dapat dijalankan secara bersamaan dan terkoordinasi.





 



Low density Development





Urban sprawl umumnya menghasilkan perumahan yang mempunyai kepadatan rendah atau sangat minim, hal ini terjadi alasannya rumah-rumah yang ada dibangun dengan menggunakan luas lahan yang sangat besar.





Low density development ini lazimnya terjadi pada kawasan-tempat gres yang mempunyai harga tanah sungguh murah dan dilakukan oleh pengembang yang diberi wewenang lebih oleh pemerintah daerah, atau bahkan berkerjasama dengan pemerintah kawasan untuk membangun akomodasi umum dan fasilitas sosial sehingga tidak mesti terjadi pembangunan leapfrogging.





Low density development ini sering diasosiasikan dengan daerah perumahan kelas atas atau perumahan pribadi yang memiliki luas bangunan besar dan terdapat pekarangan serta halaman belakang.





Low density development juga terhitung cukup berbahaya bagi perkembangan suatu kota alasannya sangat cepat menghabiskan lahan. jika leapfrog development condong menghabiskan lahan sebab pembangunan bersifat meloncat-loncat sehingga membuat lahan kosong diantara bangunan-bangunannya, low density development menghabiskan lahan dengan cara membangun bangunan yang luas dan saling terpisah oleh area hijau atau pekarangan.





Penduduk di area ini umumnya memakai mobil sebagai moda transportasi utama karena dengan memperhitungkan luas wilayahnya, tidak dimungkinkan untuk berlangsung kaki dan memakai sepeda, tetapi di lain pihak, jumlah penduduknya tidak lumayan banyak bila ingin dibangun metode transportasi lazim.





 



Dampak Urban Sprawl





Lingkungan





Dampak lingkungan dari adanya urban sprawl sangatlah banyak dan bermacam-macam, namun yang paling tampakdan berefek yaitu berkurangnya biodiversitas, banjir, polusi, urban heat island, dan menurunnya mutu serta kuantitas air tanah.





Berkurangnya Biodiversitas





Urban sprawl dapat meminimalkan biodiversitas flora dan fauna lokal alasannya beliau mengambil alih wilayah yang semestinya dapat digunakan oleh tanaman dan fauna tersebut sebagai habitatnya.





Berkurangnya biodiversitas mampu dimitigasi dengan adanya edukasi dan proses suksesi ekologis yang rumit, namun tetap saja sprawl menjadi salah satu ancaman yang paling menghancurkan terhadap biodiversitas tanaman dan fauna.





Sprawl juga kerap memperkenalkan spesies invasif terhadap suatu wilayah, fenomena ini umumnya terjadi pada pohon-pohon kota. Terkadang pengurus kota lebih mementingkan faktor estetik ketimbang faktor ekologis dari penempatan pohon tersebut.





 



Banjir





Banjir juga ialah salah satu bencana yang disebabkan oleh urban sprawl. Peningkatan luas daerah yang impermeabel ialah salah satu penyebab dari adanya banjir kota.





Air yang tiba dari hujan tidak dapat diserap oleh tanah sehingga mereka bergerak masuk ke sistem drainase kota, tetapi tidak semua kota mempunyai tata cara drainase yang baik dan dioptimasikan untuk hujan deras, sehingga dikala itu terjadi, kota-kota tersebut mengalami banjir.





 



Polusi





Polusi ialah dampak niscaya dari urban sprawl. Salah satu penyumbang paling besar polusi perkotaan ialah kendaraan bermotor, urban sprawl dengan konsepnya yang menjauhkan kawasan-daerah strategis memaksa orang-orang untuk menggunakan kendaraan bermotor, dikala siapa saja menggunakan kendaraan bermotor maka tingkat polusi di perkotaan tentu saja akan meningkat.





Polusi suara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor juga dapat mengusik kegiatan masyarakat disekitar jalan-jalan besar, sehingga mutu hidup di akrab jalan besar lazimnya lebih rendah kalau daripada kawasan yang jauh dari jalan besar.





 



Urban Heat Island





Urban heat island ialah fenomena kenaikan suhu di daerah perkotaan sebab kota tersebut menyimpan dan juga mengeluarkan panas dari aktivitas-aktivitasnya. Kenaikan suhu ini mampu menyebabkan ketidaknyamanan pada kegiatan manusia, ia juga mampu menyebabkan maut pada orang tua yang tidak besar lengan berkuasa dengan paparan panasnya.





Urban heat island menjadi salah satu penyebab dari meningkatnya ongkos listrik gedung-gedung kota yang mesti terus menerus menyalakan pendingin ruangan pada setting terdinginnya agar karyawan mereka tidak kepanasan.





 



Degradasi Air Tanah





Penggunaan air tanah lazimnya lebih intensif di wilayah perkotaan. Mereka memakai sumur-sumur yang sungguh dalam semoga mampu mengambil lebih banyak air, semakin dalam sumur tersebut, kian banyak air yang dapat diambil sebelum sumur tersebut kering.





Penggunaan air tanah secara berlebihan mampu menyebabkan subsidensi tanah alasannya rongga dalam tanah yang seharusnya diisi oleh air menjadi kosong, subsidensi tanah cukup berbahaya alasannya adalah mampu menghancurkan infrastruktur kota dan menghemat stabilitas fondasi bangunan. Jika ini terjadi di kota-kota pesisir, maka mampu terjadi pula intrusi air bahari.





Fenomena intrusi air bahari terjadi saat air maritim masuk ke dalam rongga-rongga tanah yang seharusnya diisi oleh air tanah, saat mereka sudah masuk maka air tanah akan bersifat asin atau payau. Intrusi air laut ini sudah diamati terjadi di kawasan Jakarta Utara.





 



Kesehatan





Seperti yang telah dijelaskan diatas, sprawl meningkatkan penggunaan kendaraan eksklusif, sehingga kian banyak polusi di udara dan bunyi. Meningkatnya polusi dapat menyebabkan menurunnya mutu kesehatan penduduk perkotaan.





Penyakit utama yang disebabkan oleh polusi udara yaitu penyakit pernafasan, tetapi polusi bunyi disinyalir dapat mengakibatkan stress dan penurunan kualitas hidup, sehingga potensial penyakit yang disebabkan oleh adanya sprawl ini sangat bermacam-macam. Menurut penelitian The American Journal of Public Health terdapat hubungan berpengaruh antara sprawl dengan obesitas dan hipertensi.





 



Keamanan





Ketergantungan yang tinggi pada kendaraan bermotor di daerah sprawl mempunyai efek pada parahnya kemacetan, tingginya angka kecelakaan kendaraan dan pejalan kaki, serta buruknya kualitas udara.





Menurut hasil riset di Amerika Serikat, penduduk yang tinggal di tempat sprawl memiliki potensi lebih tinggi untuk terlibat kecelakaan kendaraan daripada yang tinggal di tempat rural maupun urban, ekspresi dominan ini juga berlaku bagi para pejalan kaki.





Selain itu terdapat pula hubungan antara sprawl dan waktu tanggapandari polisi, pemadam kebakaran, dan petugas rumah sakit. Semakin jauh dari pusat pelayanan, maka waktu responnya akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh dan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan penghubung daerah suburban.





 



Biaya Infrastruktur & Transportasi





Kota yang kian besar dan tidak padat umumnya menciptakan ongkos yang harus dikeluarkan pemerintah kawasan untuk menjalankan akomodasi umum lebih besar.





Karena penggunaan kendaraan langsung sangat mendominasi, pembangunan infrastruktur angkutanpublik menjadi mahal serta usang payback period nya. Oleh alasannya itu, perencana kota terpaksa membuat jalan raya, jalan tol, serta daerah parkir yang banyak untuk memuat kendaraan yang ada.





Selain infrastruktur transportasi, penyediaan listrik, drainase dan air higienis juga menjadi lebih mahal alasannya pemerintah harus menciptakan saluran dan jaringan yang lebih panjang untuk menunjukkan saluran terhadap semua orang yang tersebar di area yang lebih luas. Hal ini bertolak belakang dengan rancangan transit oriented development yang mempunyai prinsip bahwa siapa saja harus tinggal akrab dengan sentra transportasi publik.





 



Sosial





Interaksi sosial pada penduduk menurun dikarenakan adanya sprawl. Perumahan mixed-use yang compact dan mempunyai kepadatan tinggi mampu menyebabkan interaksi sosial yang bermakna antara para tetangga, sprawl justru membuat penghalang interaksi.





Urban sprawl kerap mengubah tempat-tempat publik menjadi tempat langsung mirip halaman belakang yang dipagari. Hal ini turut meminimalkan interaksi antar tetangga dan menciptakan tetangga tidak saling kenal.





Sprawl juga disinyalir dapat menghemat kualitas hidup. Jarak yang jauh antara rumah, tempat kerja, kawasan makan, dan tempat wisata dapat memajukan kadar depresi orang-orang.





Pada tempat sprawl, secara umum dikuasai orangnya menghabiskan waktu yang lama di dalam kendaraan, entah itu menanti dalam kemacetan, atau memang alasannya jarak antara tempat tinggal dan kawasan kerja sungguh jauh.





Waktu papar yang usang terhadap kemacetan disangka menjadi penyebab dari depresi yang berlebihan pada para pekerja kantoran yang tinggal di daerah sprawl.





 



Alternatif Urban Sprawl





Smart Growth





Smart growth merupakan desain lazim pembangunan perkotaan yang pada intinya menekankan pada perkembangan kota secara compact sehingga secara umum dikuasai kawasan mampu dijangkau dengan berjalan kaki.





Konsep Smart growth juga menekankan pada pentingnya pembangunan area yang memiliki zonasi mixed use dan kepadatan masyarakatyang tinggi.





 



Compact City





Compact city merupakan desain pembangunan kota dengan kepadatan masyarakattinggi dan penggunaan lahan yang mixed use.





Konsep ini berbasis pada sistem transportasi publik yang efisien dan desain kota yang diharapkan mampu mengembangkan interaksi sosial, keamanan, efisiensi energi, serta aktivitas berlangsung kaki dan bersepeda.





Diharapkan juga compact city mampu mewujudkan konsep eye on the street sehingga meningkatkan keselamatan bareng .





 



Transit Oriented Development





Transit oriented development merupakan konsep pembangunan yang dirancang untuk menuntaskan the last mile duduk perkara yang kerap menghantui pembangunan-pembangunan akomodasi angkutanpublik.





Transit oriented development menekankan pada pembangunan fasiltias transportasi publik terintegrasi dan pembangunan kota yang compact dan mixed use.





 



New Urbanism





New urbanism ialah gerakan urban desain yang berkonsentrasi pada penataan kota sehingga beliau menjadi ramah lingkungan.





Ia mewajibkan kota untuk didesain sedemikian rupa sehingga memicu orang untuk berjalan kaki dan juga memiliki guna lahan (land-use) yang bermacam-macam dalam suatu area sehingga keperluan dasar mampu dipenuhi tanpa harus berpergian jauh.





Gerakan new urbanism ini muncul pada tahun 1980 di Amerika Serikat dan sampai sekarang masih menghipnotis acuan pikir para perancang kota dan pengembang real estate.





 



Referensi





Batty, Michael; Besussi, Elena; Chin, Nancy (November 2003). “Traffic, Urban Growth and Suburban Sprawl” (PDF). UCL Centre for Advanced Spatial Analysis Working Papers Series. 70. ISSN 1467-1298.





Bruegmann, Robert (2006). Sprawl: A Compact History. University of Chicago Press. p. 24.





Kunstler, James Howard (1998). Home from nowhere: remaking our everyday world for the twenty-First century. Touchstone.





Leapfrog Development.





McKee, Bradford. “As Suburbs Grow, So Do Waistlines“, The New York Times, September 4, 2003.





Ribbon Development.





Urban Sprawl.





Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press.



Sumber ty.com